KEMIRINGAN LERENG
Kemiringan lereng atau Slope merupakan perbandingan
antara jarak datar dan beda tinggi yang dinyatakan dalam satuan persen (%) atau
Derajat (⁰). Pada dasarnya untuk membuat
peta Kemiringan Lereng (Slope), kita membutuhkan DEM atau bisa juga garis
kontur. Pada Pembuatan Kemiringan Lereng disini saya menggunakan pedoman Sitanala
Arsyad (1989).
A.
Langkah Kerja
·
Jalankan ArcMap 10.6.
Tampilan
ArcMap
·
Kemudian
atur system proyeksi pada layer kerja dengan cara klik kanan -> Data
Frame Properties -> Coordinate System -> WGS 1984 -> Ok.
Gambar Coordinate
System
·
Selanjutnya menampilkan data demnas yang telah didownload, disini
saya menggunakan data demnas. Dengan cara klik Add
Data
Gambar Add Data
Gambar Menampilkan
Data Demnas
·
Lalu
mendefinisikan referensi dari data demnas, dengan cara ArcToolbox -> Data
Management Tools -> Projections and Transformations -> Define Project. Lalu
pada Input Dataset or Feature Class pilih salah satu data demnas,
kemudian pada Coordinate System memilih WGS 1984, lalu klik Ok.
Gambar Melakukan
Define Project
·
Lakukan
hal yang sama untuk data demnas yang lain. Kemudian menyatukan semua data dem
tersebut, dengan cara ArcToolbox -> Data Management Tools -> Raster
-> Raster Dataset -> Mosaic To New Raster.
Gambar Kotak Dialog
Mosaic To New Raster
·
Pada
Input Rasters, pilih semua data demnas.
·
Pada
Output Location, memilih tempat folder penyimpanan
·
Pada
Raster Dataset Name With Extension, memberikan nama file (Mosaic.tif).
·
Pada
Pixel Type (Optional), Cellsize (Optional), Number of Bands dapat
dilihat dengan cara klik kanan pada salah satu data demnas -> properties
-> Source.
Gambar Kotak Dialog
Layer Properties
Gambar Mengisi
Kotak Dialog Mosaic To New Raster
Gambar Hasil Mosaic
To New Raster
· Kemudian membuat contour, disini saya menggunakan fitur search, lalu mencari contour (spatial analyst).
·
Pada
Input Raster, pilih Mosaic.tif.
·
Pada
Output Polyline Feature, pilih tempat penyimpanan untuk folder dan
memberikan nama file.
·
Pada
Contour Interval, pilih 10 Meter.
·
Lalu
klik Ok.
Gambar Hasil
Contour
·
Langkah
selanjutnya memasukkan data batas wilayah . Kemudian memotong contour dengan batas wilayah ,
dengan cara Geoprocessing -> Clip.
·
Pada
Input Features, pilih kontur
· Pada Clip Features,
·
pada
Ouput Feature Class, pilih tempat penyimpanan folder
· lalu klik Ok
Gambar Hasil Clip
·
kemudian
mengubah system Coordinate ke UTM, dengan cara ArcToolbox -> Data
Management Tools -> Projections and Transformations -> Project.
·
Pada
Input Data Set or Feature Class, pilih kontur_clip.
·
Pada
Output Data Set or Feature Class, pilih tempat penyimpanan file.
·
Pada
Ouput Coordinate System, pilih sesuai dengan zona pada batas wilayah (WGS_1984_UTM_Zone_50S).
·
Lalu
klik Ok.
· Lakukan hal yang sama pada Batas wilayah
Gambar Kotak
Dialog Project
·
Kemudian,
pada area kerja system proyeksi harus diubah ke UTM dan satuan Meter, dengan
cara klik kanan area kerja -> Data Frame Properties ->
Coordinate System -> WGS 1984 UTM Zone 50S -> General -> Display ->
Ok.
Gambar Kotak
Dialog Data Frame Properties
·
Selanjutnya
Open Attribute Table pada kontur, lalu membuat Add Field Panjang
dengan Type Float. Setelah itu pada table panjang melakukan Calculate
Geometry
Gambar Membuat
Field Panjang
·
Kemudian
menghapus panjang yang lebih kecil dari 500 M. Dengan cara Select By
Attributes lalu Apply. Setelah itu, lakukan Start Editing
lalu Delete.
Gambar Menghapus
Panjang < 500
·
Selanjutnya,
membuat data dem baru dari hasil contour, dengan cara Topo to Raster
(Spatial Analyst) dengan menggunakan fitur Search.
·
Pada
Input Feature Data, pilih kontur dan field diubah menjadi CONTOUR.
·
Pada
Output Surface Raster, pilih tempat penyimpanan file.
·
Pada
Output Cell Size (Optional) diubah menjadi 10.
·
Pada
Environments, pilih processing extent, lalu same as layer batas wilayah .
Gambar Kotak
Dialog Topo to Raster
Gambar Hasil Topo to Raster
·
Kemudian
memotong hasil topo to raster dengan batas wilayah, dengan cara
Windows -> Image Analysis
·
Lalu
select semua batas wilayah seperti pada gambar 1.18, lalu klik topo_10.tif pada image analysis,
kemudian clip
Gambar Select
Features
Gambar Clip
Gambar Hasil Clip
·
Selanjutnya,
membuat Slope (Spatial Analyst) dengan menggunakan fitur Search.
·
Pada
Input Raster, pilih hasil clip topo to raster.
·
Pada
Output Raster, pilih tempat penyimpanan file.
·
Pada
Output Measurement (Optional), pilih PERCENT_RISE.
Gambar Kotak Dialog Slope
Gambar Hasil Slope
·
Selanjutnya,
melakukan klasifikasi hasil slope, dengan cara Reclassify (Spatial Analyst) menggunakan
fitur Search. Pedoman pengklasifikasian disini saya menggunakan menurut Sitanala
Arsyad (1989).
·
Pada Input
Raster, pilih Slope.tif
·
Lalu pilih Classfy,
pilih Classes 7, lalu pada Break Values isikan sesuai dengan
pedoman kemiringan lereng yang digunakan (Sitanala Arsyad (1989), lalu
klik Ok.
·
Pada Output
raster, pilih penyimpanan file.
·
Lalu klik Ok.
Gambar Melakukan Reclassify
Gambar Hasil Reclassify
·
Setelah itu,
membuat dua field baru pada attribute table hasil klasifikasi
(Slope_Klasifikasi.tif). field Kelas dan kemiringan Lereng (%).
Setelah itu aktifkan start editing untuk memasukkan kelas dan nilai
kemiringan lereng sesuai pedoman Sitanala Arsyad (1989).
Gambar Kelas dan Kemiringan Lereng
Gambar Hasil Kemiringan
Layout Peta Kemiringan Lereng
Komentar
Posting Komentar